Kamis, 30 April 2009

Lamongan Go International

Hari selasa kemarin gue jenguk Emil (sepupu) di rumah sakit, dia abis operasi amandel. Rumah sakit tempat dia dirawat terletak di daerah cideng, Jakarta pusat. Sampai disana ada bokap-nyokapnya dan adeknya, Diaz. Setelah tanya-tanya bagaimana keadaan dia dan ngelawak-ngelawak rame-rame akhirnya gue laper. Gue ngajak Diaz buat cari makanan di luar. Gue tanya ke Diaz ada makanan apa aja di luar dia bilang ada restoran “Lamongan Go International”. Wetsah, kayaknya oke banget tuh restoran. Detik demi detik gue semakin dekat dengan koit. Mengapa? Deg-degan karena cuma bawa duit duapuluh ribu dan ngajak adek sepupu makan di restoran ‘international’. Gue Panik.

Sampai di luar rumah sakit tepatnya di depan rumah sakit gue liat restoran yang Diaz bilang itu. Sungguh mengejutkan karena penampilan restoran itu jauh dari yang gue bayangkan. Eksterior restoran itu dihiasi dengan lukisan ayam, lele, bebek, dan burung dara. Dari luar kita dapat melihat mengetahui gambaran menu yang akan disajikan. Singkatnya, “Lamongan Go International” bukan restoran. Tapi warung nasi uduk yang biasa mangkal di pinggir jalan. Sialan Diaz!

Gue masuk ke dalam warung itu. Disana terlihat ada beberapa pelanggan sedang menunggu pesanannya. Ada yang lagi baca koran bola. Ada juga yang lagi ngupil sambil ngelus helm. Setelah mikir-mikir apa enaknya ngupil sambil ngelus helm gue pun duduk. Gue ambil menu dan mulai melihat-lihat menu yang ‘bersinar’. Gue menemukan sesuatu yang agak tidak biasa ditemukan di warung-warung nasi uduk lainnya. Menunya gak ada yang biasa-biasa aja. Contohnya biasanya di menu cuma ditulis ‘Ayam Goreng’ disini ditulis ‘Ayam Goreng Poles Mentega’ (walaupun setelah gue coba gak ada beda yang signifikan dalam soal rasa). Di samping daftar menu juga terdapat terjemahan menu dalam bahasa Inggris dan Belanda. Misalnya Ayam Bakar Poles Mentega/ Fried Chicken/Roosten Eend (bener gak tuh? Kalo gak salah ya). Mungkin dua hal tersebut (embel-embel poles mentega dan terjemahan menu ke bahasa asing) adalah hal yang biasa. Tapi menurut gue itu cukup spesial. It’s surprising.

Setelah makan ayam bakar dan ayam goreng (punya Diaz) gue bayar. Sambil bayar gue ngobrol-ngobrol dikit sama Si Abang Nasi Uduk

“Bang, bahasa Inggris dan Belandanya belajar dari mana?”

“Ah itu cuma aplikasi dari sedikit pengetahuan aja kok. Cuma taktik marketing” jawab sang abang dengan logat jawa yang kental.

Gue kaget, jarang sekali ada tukang nasi uduk yang cerdas seperti dia. Mungkin gue merendahkan karena gue pikir untuk level tukang nasi uduk abang yang satu ini spesial. Perlu diketahui Si Abang Nasi Uduk ini melayani semua pelanggannya dengan semangat dan sopan. Mungkin ini hanya warung nasi uduk tapi gue merasa dilayani dengan semangat khas Jepang dan kesopanan ala Inggris. Walaupun rasa makanannya biasa aja tapi gue puas dengan service yang diberikan. Setelah ngobrol-ngobrol dikit sama Si Abang Nasi Uduk (soal sekolah dan hal enteng lainnya) gue pamit. Sambil pamit gue memberikan semangat kepada si abang.

“Semoga Sukses! Saya yakin abang bakal sukses. Saya serius!” gue bilang.

“Terima kasih banyak. Kamu juga ya!” balas si abang nasi uduk dengan semangat dan mata agak berkaca-kaca.

Pengalaman yang berharga. Pelajaran yang gue dapet dari Si Abang Nasi Uduk adalah dia gak nyerah sama keadaan. Mungkin dia pernah kaya dan sebernarnya dia tergolong dalam masyarakat well educated. Dia juga berpikir bagaimana caranya menarik perhatian pembeli untuk datang kembali atau minimal pulang dengan kesan yang berbeda setelah makan di warungnya, sebuah taktik yang cukup brilian untuk level penjual nasi uduk. Gue pun membayangkan bagaimana keadaannya apabila semua pengusaha kecil bertindak seperti dia, semangat, berpikir positif, mengaplikasikan pengetahuan, mau belajar, dan bekerja sepenuh hati. Pasti pasar usaha kecil menengah lebih bergairah dibanding sekarang. Dan yang terpenting, pada saat yang bersamaan ada golongan konglomerat yang memang kaya dari lahir. Mungkin dapat warisan atau apalah. Kerja keras bagi mereka mungkin hanya saat ujian sekolah atau kuliah. Selesai pendidikan formal mereka langsung kerja di perusahaan kelas atas. Diterima kerjapun kadang karena keuntungan koneksi semata. Stress saat kerja? Bukan masalah. Pada saat waktu kerja selesai berbagai perabot rumah yang mewah menanti untuk dinikmati. Sementara di tempat lain Si Abang Nasi Uduk sedang bekerja keras melayani pelanggan, berpikir keras bagaimana caranya untuk menarik pembeli. Selesai kerja dia masih harus menutup warung nasi uduknya. Mendorong gerobaknya yang berat menuju rumahnya yang cukup jauh jaraknya.

Dasar Si Abang Nasi Uduk memang beruntung. Dia diberi kesempatan oleh Allah untuk merasakan kesulitan agar dia sangat bersyukur saat sukses kelak.

Jumat, 24 April 2009

Paintings

“Bagaimana Cara KIta Untuk Menilai Suatu Karya Seni?”

Pertanyaan ini muncul pertama kali saat gue tahu Om gue jadi kolektor lukisan. Saat ini sudah ada puluhan bahkan mungkin ratusan lukisan di rumah dia. Gue tanya buat apa dia mengoleksi sekian banyak lukisan sampai dinding di rumahnya penuh dengan lukisan? Kadang untuk duduk saja sulit karena lukisan yang begitu menyita tempat itu. Ternyata dia membeli sekian banyak lukisan itu tidak hanya untuk koleksi atau dekorasi ruangan saja, tapi juga untuk diperjualbelikan. Ya, bisnis lukisan.

Yang bikin gue heran, bagaimana caranya menentukan suatu harga lukisan? Apakah dilihat dari sudut pandang bahwa lukisan adalah sebuah karya intelektual? Berdasarkan materi yang dipakai dalam lukisan? atau bahkan nama besar si pelukis? Sepertinya harga sebuah lukisan dinilai dari seberapa besar rasa suka kita terhadap karya seni itu. Makin kita suka, makin berani kita menawar harga yang lebih tinggi. Adapun beberapa faktor lain yang mempengaruhi tinggi-rendahnya harga suatu karya seni. Seperti reputasi si seniman dan berapa banyak orang yang tertarik pada lukisan tersebut. Bagaimana reputasi si seniman bisa terangkat? Dengan naiknya harga lukisan dia di pasaran tentunya. Bisa jadi saat dia menjual lukisan kepada pembeli pertama lukisan itu hanya dibayar lima juta rupiah. Tapi, setelah si pembeli menjual kembali lukisannya di sebuah galeri atau balai lelang dengan harga tinggi, tentu lukisan tersebut akan menjadi buah bibir. Pada akhirnya lukisan tersebut dianggap memiliki nilai seni yang tinggi dan pelukisnya dikenal sebagai pencipta karya seni yang bernilai tinggi. Selanjutnya, karya-kaya si seniman tersebut terus melonjak harganya.

Dari pemikiran di atas gue mengambil banyak kesimpulan tentang seni, pentingnya reputasi, dan cinta. Buat gue, seni bisa kita nikmati sesuai dengan ‘level kesenian’ kita. Gue gak bakal ngerti apa yang dimaksud Popo Iskandar dalam lukisan-lukisannya kalau ‘level kesenian’ gue masih berorientasi pada seni lukis yang simetris. Jadi, salah besar menurut gue kalau ada diantara kita yang merendahkan sebuah karya seni dalam bentuk apapun. Baik itu seni lukis, seni tari, seni suara, dan seterusnya.

Membangun reputasi juga menjadi suatu hal yang sangat penting. Pemikiran kita atau bahkan segala tindakan yang kita lakukan akan lebih berpengaruh jika kita memiliki reputasi yang kuat di bidang yang kita tekuni. Yang terakhir, cinta. Cinta itu buta. Gue gak peduli kalau gue harus mengeluarkan uang berapa untuk membeli sebuah lukisan dari pelukis favorit gue (dalam hal marketing mungkin ini yang dimaksud dengan brand recognizing). Inilah yang jadi motivasi gue dalam mengejar ilmu dan materi. Gue pengen kemampuan gue sebanding dengan apa yang gue cinta. Gue pengen jadi orang kaya karena gue suka benda-benda yang berkualitas dengan harga yang tinggi. Gue pengen jadi kolektor benda seni, gue pengen jadi kolektor motor vespa, gue pengen jadi kolektor cd dan dvd original, dan hal lainnya. Oleh karena itu, atas nama cinta gue selalu berusaha mensejajarkan diri gue dengan hal apapun yang gue cinta.

Think Borderless

Banyak orang berkata “Kita melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan kita”. Sebuah pernyataan yang sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Saat kita tidak mampu melakukan sesuatu, kita akan melakukan segala usaha yang dapat membuat kita mampu melakukan hal tersebut. Itu adalah hal yang wajar dan setiap manusia normal akan melakukannya. Namun bagi manusia yang kurang normal akan menyerah begitu saja.

Masalah lain muncul ketika kita sudah mampu untuk mencapai kapabilitas yang kita inginkan. Masalah itu adalah pertanyaan “Bisakah kita melakukannya lebih baik lagi?”. Orang bisa menanggapi pertanyaan ini sebagai sebuah tantangan atau masalah. Bagi orang yang menjawab bahwa pertanyaan itu adalah tantangan bagi dirinya untuk mengembangkan diri dapat dipastikan bahwa orang tersebut akan sukses dalam kehidupan.

Seringakali kita tidak berani mengambil resiko. Kita yang bertubuh pendek tidak berani terjun ke dunia perbolabasaketan, padahal hati kita mengetahui kalau bola basket sudah menjadi ‘passion’ kita dalam hidup ini. Kita tidak berani karena ada ‘dinding’ pengahalang dalam pikiran yang membatasi kita. Tragisnya, kita sendirlah yang membangun dinding itu. Awalnya kita begitu semangat berlatih bola basket, sampai suatu saat ada seorang berkata bahwa kita tidak akan sukses menjadi atlet bola basket karena tubuh kita yang menurutnya kurang ideal. Hari demi hari kita terus memikirkan apa yang dikatakan seseorang itu sampai pada akhirnya pikiran kita menyetujuinya dan akhirnya kita meninggalkan apa yang kita cintai dan menerimanya sebagai kenyataan hidup yang harus diterima.

Saat kita berpikir kalau kita bisa kita pasti bisa! Mungkin pada awalnya segala
sesuatu kita lakukan untuk mengejar hal yang mustahil. Namun, dalam perjalanan kita akan menemukan berbagai masukan yang akan mengantar kita ke gerbang kesuksesan. Jadi, janganlah hal-hal yang tidak memberdayakan menjadi faktor-faktor pemicu kegagalan kita.

Saat kita mampu menjadi seorang pebola basket handal, mampukah kita untuk menjadi yang lebih baik atau bahkan yang terbaik? Berpikralah seperti atlet, selalu berusaha memecahkan rekor. Baik rekor yang kita ciptakan sendiri atau yang orang lain ciptakan.

Selasa, 07 April 2009

Creativity Comes When We Have a Lot of Fun

Setiap kesuksesan memang memerlukan kerja keras. Tapi kebanyakan orang berpikir kerja keras adalah hal yang kurang mengenakkan karena kita bekerja dalam keadaan fisik dan mental yang terbebani. Namanya juga kerja keras.

Kerja keras memang salah satu syarat mutlak dalam menacapai kesuksesan. Tapi mengapa seringkali kita melupakan atau menomorduakan KREATIVITAS? Ya, karena dengan kreativitas kita dapat bekerja dengan lebih efektif dan melahirkan banyak ide-ide brilian. Dari mana kreativitas bisa muncul? Mengutip kalimat yang dilontarkan oleh seorang tokoh “Creativity comes when you have a lot of fun”. Kesimpulannya kreativitas datang saat kita dalam keadaan senang atau bahagia. Gue sangat suka dengan kalimat itu. Sebagai manusia normal tentunya gue sangat nyaman apabila sedang dalam perasaan senang, gembira, atau bahagia. Kalau lagi senang, rasanya seluruh energi positif yang ada dalan diri kita bertambah lima kali lipat. Saat dalam kondisi itulah kita dapat mengerjakan sesuatu lebih baik karena kita bekerja dengan antusiasme yang tinggi.

Oleh karena itu, apabila kita menginkan diri kita selalu dalam peforma puncak dalam bekerja cobalah untuk menciptakan suasana kerja yang menyenangkan. Jangan lupa, memperoleh kesenangan dan kebahagiaan adalah salah satu tanggung jawab kita sebagai professional.

Minggu, 05 April 2009

In The future, Everyday Will Be Your Best Day

Kemana kita setelah lulus SMA? Itu adalah salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran gue. Gue juga banyak minta pendapat tentang hal ini ke teman-teman gue. Hampir seluruhnya menjawab bahwa mereka akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebuah jawaban yang sangat ‘general’. Tapi ada kekhawatiran dalam hati gue. Bagaimana kalau kita gagal diterima di perguruan tinggi yang kita kehendaki? Pertanyaan ini muncul bukan karena gue mempunyai sifat sebagai orang yang berpikir ‘skeptic’ dalam menghadapi masa depan. Gue berpikran seperti itu karena memang ada dua kemungkinan, berhasil atau berhasil dengan tidak sempurna. Kalau berhasil tentunya gue sangat bangga karena berhasil diterima di universitas negeri favorit. Tapi kalau sebaliknya?

Gue selalu ingat akan kalimat ini ‘’Hope for the best, plan for the worst’’. Best hope gue adalah berhasil diterima di perguruan tinggi negeri atau swasta yang gue impikan. Sedangkan, plan for the worst-nya gue belom tau. Gue baca profil diplomat RI, Marty Natalegawa. Dia pernah menjadi duta besar RI untuk Inggris. Salah satu misinya adalah meningkatkan hubungan antara RI dan Inggris, terutama dalam hal pariwisata. Katanya, anak SMA di Inggris punya kebiasaan ‘nganggur’ setelah mereka lulus SMA. Bukan nganggur gak ngerjain apa-apa, tapi mereka tidak langsung sekolah ke perguruan tinggi. Menurut apa yang gue tangkap dari penjelasan Pak Marty, pada umumnya mereka berkeliling dunia untuk mencari referensi tentang hal apa yang ingin mereka tekuni di universitas nanti. Kalau hubungan RI dan Inggris baik, bisa jadi Indonesia adalah pilihan populer anak SMA inggris untuk berlibur atau mencari informasi tentang sesuatu. Menurut gue keren juga gagasannya Pak Marty. Tapi yang gue dapat dari informasi itu, anak lulusan SMA di Inggris gak buru-buru melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Mereka menggunakan waktu satu tahun untuk mencari inspirasi tentang hal atau bidang apa yang ingin mereka tekuni di perguruan tinggi nanti. Setelah mengetahui apa yang menjadi ‘passion’nya, study performance mereka pastinya bakal lebih maksimal karena didasari keinginan atau motivasi yang sangat kuat dari dalam diri sendiri.

Sekarang gue jadi punya rencana yang lebih oke (menurut gue). Gue pengen ngambil jurusan akuntansi atau bisnis manajemen. Kalau gue gagal masuk jurusan itu di PTN yang gue pengen, gue gak kuliah setahun. Nah, waktu setahun itu gue pake buat mempelajari bidang akuntasi atau bisnis manajemen yang gue sudah jadi ‘passion’ gue. Syukur-syukur kalau dalam waktu setahun itu gue udah bisa dapat pekerjaan yang lumayan ‘menghasilkan’. Menghasilkan tidak selalu kita peroleh dalam bentuk materi, tapi juga pengalaman dan hal lainnya. Gue sangat butuh pekerjaan untuk memenuhi segala kebutuhan gue untuk mencapai kemakmuran atau sekedar bertahan hidup. Soal pekerjaan gue memilih untuk berwirausaha. Kenapa berwirausaha? Karena dengan berwirausaha kita dapat menjadi manusia yang independen. Walaupun gue suka banget jadi entrepreneur dan anti jadi karyawan, bukan berarti gue gak butuh gelar. Bisa aja di tengah jalan bisnis gue mengalami kegagalan alias bangkrut. Karena bangkrut, gue terpaksa harus kerja sama orang alias jadi karyawan. Kalo gue mempunyai gelar yang cukup ‘kuat’ untuk memperoleh pekerjaan dengan jabatan yang tinggi kan lumayan? Paling enggak gue kerja jadi karyawan untuk mengumpulkan modal membangun usaha yang baru. Sebaliknya, kalau ternyata gue langsung diterima di PTN yang gue pengen. Gue bisa kuliah sambil magang di perusahaan apa, itung-itung ngumpulin modal buat usaha nanti.

Kesimpulannya, lebih milih gelar atau kerja? Gue sih dua-duanya, cuma urutannya aja yang beda. Akhirnya kalimat “Hope for the best, plan for the best” berubah menjadi “In the future, everyday will be your best day”.

First Post

Halo semua!

Di posting perdana blog ini gue pengen ngejelasin hal-hal apa aja yang bakal mengisi blog ini.

Blog ini adalah tulisan-tulisan gue tentang dunia pendidikan, bisnis, dan hal-hal humaniora lainnya. Agak berat ya? Mungkin dilihat dari pilihan topiknya iya, tapi gue berusaha menyampaikan semua itu dengan bahasa yang lebih santai atau sesuai dengan perspektif anak SMA seperti gue. Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa gue bikin blog kayak gini? Gue melihat banyak hal-hal sosial yang bisa kita bahas bersama. Mulai dari ekonomi,bisnis, gaya hidup, sampai ke politik. Intinya, blog ini adalah sarana gue untuk menyalurkan pendapat atau hasil pengamatan gue tentang hal-hal yang disebutkan tadi (ekonomi, bisnis, gaya hidup, dst).

Mudah-mudahan di blog ini kita dapat saling berbagi pengalaman, bertukar pikiran, dan berbagai hal positif lainnya kita lakukan demi kehidupan yang lebih baik.

AMIN