Minggu, 05 April 2009

In The future, Everyday Will Be Your Best Day

Kemana kita setelah lulus SMA? Itu adalah salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran gue. Gue juga banyak minta pendapat tentang hal ini ke teman-teman gue. Hampir seluruhnya menjawab bahwa mereka akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebuah jawaban yang sangat ‘general’. Tapi ada kekhawatiran dalam hati gue. Bagaimana kalau kita gagal diterima di perguruan tinggi yang kita kehendaki? Pertanyaan ini muncul bukan karena gue mempunyai sifat sebagai orang yang berpikir ‘skeptic’ dalam menghadapi masa depan. Gue berpikran seperti itu karena memang ada dua kemungkinan, berhasil atau berhasil dengan tidak sempurna. Kalau berhasil tentunya gue sangat bangga karena berhasil diterima di universitas negeri favorit. Tapi kalau sebaliknya?

Gue selalu ingat akan kalimat ini ‘’Hope for the best, plan for the worst’’. Best hope gue adalah berhasil diterima di perguruan tinggi negeri atau swasta yang gue impikan. Sedangkan, plan for the worst-nya gue belom tau. Gue baca profil diplomat RI, Marty Natalegawa. Dia pernah menjadi duta besar RI untuk Inggris. Salah satu misinya adalah meningkatkan hubungan antara RI dan Inggris, terutama dalam hal pariwisata. Katanya, anak SMA di Inggris punya kebiasaan ‘nganggur’ setelah mereka lulus SMA. Bukan nganggur gak ngerjain apa-apa, tapi mereka tidak langsung sekolah ke perguruan tinggi. Menurut apa yang gue tangkap dari penjelasan Pak Marty, pada umumnya mereka berkeliling dunia untuk mencari referensi tentang hal apa yang ingin mereka tekuni di universitas nanti. Kalau hubungan RI dan Inggris baik, bisa jadi Indonesia adalah pilihan populer anak SMA inggris untuk berlibur atau mencari informasi tentang sesuatu. Menurut gue keren juga gagasannya Pak Marty. Tapi yang gue dapat dari informasi itu, anak lulusan SMA di Inggris gak buru-buru melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Mereka menggunakan waktu satu tahun untuk mencari inspirasi tentang hal atau bidang apa yang ingin mereka tekuni di perguruan tinggi nanti. Setelah mengetahui apa yang menjadi ‘passion’nya, study performance mereka pastinya bakal lebih maksimal karena didasari keinginan atau motivasi yang sangat kuat dari dalam diri sendiri.

Sekarang gue jadi punya rencana yang lebih oke (menurut gue). Gue pengen ngambil jurusan akuntansi atau bisnis manajemen. Kalau gue gagal masuk jurusan itu di PTN yang gue pengen, gue gak kuliah setahun. Nah, waktu setahun itu gue pake buat mempelajari bidang akuntasi atau bisnis manajemen yang gue sudah jadi ‘passion’ gue. Syukur-syukur kalau dalam waktu setahun itu gue udah bisa dapat pekerjaan yang lumayan ‘menghasilkan’. Menghasilkan tidak selalu kita peroleh dalam bentuk materi, tapi juga pengalaman dan hal lainnya. Gue sangat butuh pekerjaan untuk memenuhi segala kebutuhan gue untuk mencapai kemakmuran atau sekedar bertahan hidup. Soal pekerjaan gue memilih untuk berwirausaha. Kenapa berwirausaha? Karena dengan berwirausaha kita dapat menjadi manusia yang independen. Walaupun gue suka banget jadi entrepreneur dan anti jadi karyawan, bukan berarti gue gak butuh gelar. Bisa aja di tengah jalan bisnis gue mengalami kegagalan alias bangkrut. Karena bangkrut, gue terpaksa harus kerja sama orang alias jadi karyawan. Kalo gue mempunyai gelar yang cukup ‘kuat’ untuk memperoleh pekerjaan dengan jabatan yang tinggi kan lumayan? Paling enggak gue kerja jadi karyawan untuk mengumpulkan modal membangun usaha yang baru. Sebaliknya, kalau ternyata gue langsung diterima di PTN yang gue pengen. Gue bisa kuliah sambil magang di perusahaan apa, itung-itung ngumpulin modal buat usaha nanti.

Kesimpulannya, lebih milih gelar atau kerja? Gue sih dua-duanya, cuma urutannya aja yang beda. Akhirnya kalimat “Hope for the best, plan for the best” berubah menjadi “In the future, everyday will be your best day”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar