Jumat, 24 April 2009

Paintings

“Bagaimana Cara KIta Untuk Menilai Suatu Karya Seni?”

Pertanyaan ini muncul pertama kali saat gue tahu Om gue jadi kolektor lukisan. Saat ini sudah ada puluhan bahkan mungkin ratusan lukisan di rumah dia. Gue tanya buat apa dia mengoleksi sekian banyak lukisan sampai dinding di rumahnya penuh dengan lukisan? Kadang untuk duduk saja sulit karena lukisan yang begitu menyita tempat itu. Ternyata dia membeli sekian banyak lukisan itu tidak hanya untuk koleksi atau dekorasi ruangan saja, tapi juga untuk diperjualbelikan. Ya, bisnis lukisan.

Yang bikin gue heran, bagaimana caranya menentukan suatu harga lukisan? Apakah dilihat dari sudut pandang bahwa lukisan adalah sebuah karya intelektual? Berdasarkan materi yang dipakai dalam lukisan? atau bahkan nama besar si pelukis? Sepertinya harga sebuah lukisan dinilai dari seberapa besar rasa suka kita terhadap karya seni itu. Makin kita suka, makin berani kita menawar harga yang lebih tinggi. Adapun beberapa faktor lain yang mempengaruhi tinggi-rendahnya harga suatu karya seni. Seperti reputasi si seniman dan berapa banyak orang yang tertarik pada lukisan tersebut. Bagaimana reputasi si seniman bisa terangkat? Dengan naiknya harga lukisan dia di pasaran tentunya. Bisa jadi saat dia menjual lukisan kepada pembeli pertama lukisan itu hanya dibayar lima juta rupiah. Tapi, setelah si pembeli menjual kembali lukisannya di sebuah galeri atau balai lelang dengan harga tinggi, tentu lukisan tersebut akan menjadi buah bibir. Pada akhirnya lukisan tersebut dianggap memiliki nilai seni yang tinggi dan pelukisnya dikenal sebagai pencipta karya seni yang bernilai tinggi. Selanjutnya, karya-kaya si seniman tersebut terus melonjak harganya.

Dari pemikiran di atas gue mengambil banyak kesimpulan tentang seni, pentingnya reputasi, dan cinta. Buat gue, seni bisa kita nikmati sesuai dengan ‘level kesenian’ kita. Gue gak bakal ngerti apa yang dimaksud Popo Iskandar dalam lukisan-lukisannya kalau ‘level kesenian’ gue masih berorientasi pada seni lukis yang simetris. Jadi, salah besar menurut gue kalau ada diantara kita yang merendahkan sebuah karya seni dalam bentuk apapun. Baik itu seni lukis, seni tari, seni suara, dan seterusnya.

Membangun reputasi juga menjadi suatu hal yang sangat penting. Pemikiran kita atau bahkan segala tindakan yang kita lakukan akan lebih berpengaruh jika kita memiliki reputasi yang kuat di bidang yang kita tekuni. Yang terakhir, cinta. Cinta itu buta. Gue gak peduli kalau gue harus mengeluarkan uang berapa untuk membeli sebuah lukisan dari pelukis favorit gue (dalam hal marketing mungkin ini yang dimaksud dengan brand recognizing). Inilah yang jadi motivasi gue dalam mengejar ilmu dan materi. Gue pengen kemampuan gue sebanding dengan apa yang gue cinta. Gue pengen jadi orang kaya karena gue suka benda-benda yang berkualitas dengan harga yang tinggi. Gue pengen jadi kolektor benda seni, gue pengen jadi kolektor motor vespa, gue pengen jadi kolektor cd dan dvd original, dan hal lainnya. Oleh karena itu, atas nama cinta gue selalu berusaha mensejajarkan diri gue dengan hal apapun yang gue cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar